Teras Hukum
Shalat itu berdampak bagi kesehatan jasmani dan rohani

Shalat itu berdampak bagi kesehatan jasmani dan rohani

04 Mar 2026
           

I.    PENDAHULUAN

Latar Belakang

Shalat dalam agama Islam menjadi rukun Islam ke-dua yang menjadi kewajiban bagi setiap muslim. Tata cara pelaksanaan shalat sesuai tartib/ tata urutan akan membawa dua dampak positif dalam pandangan kesehatan maupun pendekatan medis terhadap psikologi seseorang. Keduanya menjadi satu kesatuan terhadap makna tersirat dalam setiap gerakan dan mempengaruhi psikis seorang muslim, yakni makna gerakan kita dihadapan Allah SWT dan makna gerakan untuk kesehatan diri sendiri.

Dalam surat Al-Mukmin ayat (1) dan ayat (2) sebagaimana firman-Nya : Qod Aflaha Mu’minun (artinya : sungguh beruntung orang-orang mukmin) dan, Alladzina humm fii anshalatihim khasyiun (artinya: orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya". Ayat ini menjelaskan karakteristik utama orang beriman yang beruntung, yakni salat dengan tenang, fokus, dan sepenuh hati).

Beberapa seorang mukmin kamil (Islam sempurna)[1] dapat diketahui dan dilihat yang mengerjakan shalatnya baik, seperti Habib Ahmad Bin Abdullah bin Thalib Al-Atas, seorang tokoh keturunan Habib Ahmad bin Ali, seorang ulama Gujarat ‘Hadratal Maut’ Yaman dari garis keturunan Husen yang membawa agama Islam di Pekalongan dan Habib Luthfi bin Yahya rata-rata sudah memasuki usia tujuh puluh (70) tahun masih terlihat bugar dan tegak badannya. Sampai hari  ini, terlihat dua tokoh ulama asal Pekalongan tersebut masih terlihat shalat berjamaah lima waktu dan beberapa shalat-shalat sunnah lain yang terus dilanggengkan. Hal itu dapat dilihat ratusan jamaahnya setiap waktu shubuh banyak dari berbagai daerah yang menjalankan shalat berjamaah di Masjid Ar-Raudhah jalan K.H. Agus Salim Pekalongan.

Salah satu faktor usia kedua tokoh ulama kharismatik tersebut tetap terlihat sehat dan bugar, dapat dilihat masih memimpin shalat di masjid yang dibangunnya. Dapat dikatakan kepribadian akhlaknya diikuti oleh ribuan jamaah dari berbagai luar kota saat mengikuti pengajian. Kepribadian seseorang muslim yang banyak pasti diikuti oleh jamaah sebagai panutan. Fatwanya pun yang dikeluarkan dari ucapannya memiliki energi positif yang membawa pengaruh terhadap baik umatnya. Keutaman shalat tidak sekedar meninggalkan perbuatan hal yang mungkar dan batil saja, bahkan tidak sekedar kewajiban setiap muslim saja. Tetapi, lebih dari segi kesehatan bagi tubuh dan jiwa/ ruhani jauh lebih menghasilkan energi positif.

Secara zhahir, shalat dilakukan dengan berdiri, mulai dari membaca membaca wajib surat al-fatikah, dan surat lain untuk sunnah, disusul dengan gerakan rukuk, sujud, duduk dua diantara sujud dan seterusnya. Gerakan dalam shalat ini melibatkan berbagai anggota badan. Menggerakan seluruh anggota tubuh yang merupakan satu kesatuan sebagai syarat dan sah rukun shalat dengan diakhir doa sebagai puncak suatu ritual agama apapun. Gerakan shalat tidak sekedar ritual untuk menghadap kepada Allah SWT sebagai kewajiban orang yang beragama Islam dan telah baligh saja, melainkan shalat secara jasmani atau fiskal untuk ikhtiar menuju ikhtiar sehat pula. Karena suatu gerakan badan itu yang berlaku dalam rukun shalat lima waktu, maupun shalat sunnah lainnya merupakan fase menuju perbaikan kualitas hidup sebagai hamba yang patuh dan taat menjalankan perintah, dan menjauhi segala larangan-Nya.

Oleh karena itu, penulis mengajukan judul : Shalat dengan sub tema : Shalat itu berdampak bagi kesehatan jasmani dan rohani yang membangkitkan semangat gerakan shalat sebagai kesehatan jiwa/ mental dalam berfikir dan kesehatan fisik dalam menjaga kebugaran dan keseimbangan tubuh menuju perjalanan spiritual muslim kepada Tuhannya jauh lebih sempurna.  Sebagai perbandingan ibadah shalat dalam ajaran Islam dengan ibadah agama lainnya yang jauh lebih sempurna. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

II.   ABSTRAK

Shalat merupakan ritual untuk mencurahkan kelelahan, kecemasan, kekhawatiran, dan kegundahan hati diri kita untuk bersandar dan bermunajat kepada sang Khaliq-Nya agar meminta pertolongan, sesuai firman Allah SWT berbunyi : Iyyaaka na’buduu wa iyaa ka nasta’iinu. Artinya: Hanya engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada engkaulah kami memohon pertolongan. (QS Al-fatikhah (1):5.

Ditafsirkan firman Allah SWT tersebut mengandung kesadaran tingkat insan kamil, yaitu mereka yang telah melalui beberapa tingkatan alam rasa dan pengalaman ruhani, sehingga tenggelam dalam lautan Tauhid atau Keesaan Allah SWT dan berpadu berbalut kerinduan dengan-Nya. Shalat yang demikian itu hanya dapat dilakukan oleh hati yang ikhlas, hati yang tidak tidur dan tidak mati. Hati dan jiwa seperti itu kekal dan selalu beribadah. Inilah ibadah orang yang sudah mencapai puncak ma’rifat dengan Allah SWT, tempat penyucian tertinggi. Ruhaniah berdzikir dan membaca Asma’ullah dalam bahasa alam ruhaniah. Maka, kesehatan jiwa yang selalu cukup terasupi dzikir akan menyehatkan fikiran dan hati seseorang insan kamil.

Makna shalat tidak sekedar dimulai dari berdiri tegak (qiyam), rukuk, i’tidal, sujud, duduk diantara dua sujud, tasyahud, dan salam saja dengan gerakan berulang sampai dua rakaat (repeat) bahkan sampai empat rakaat (repeat), melainkan lebih kepada menjaga keseimbangan jiwa dan ruhani. Dalam shalat keseimbangan itu tampaknya nyata, gerakan-gerakkan melatih semua organ tubuh dan bacaan-bacaan shalat yang merdu menenangkan jiwa, seperti halnya musik relaksasi massage (pijat) agar jauh lebih santai, tenang dan rileks.

Lebih dari itu, shalat lima waktu yang terjaga pula mengajarkan ritme dan disiplin menggerakan seluruh organ tubuh setiap waktu. Semula malas bergerak ‘mager’, akhirnya dengan melalui gerakan sholat muncul etos beraktifitas tinggi. Dengan waktu lima kali yang terbagi dalam empat sampai enam jam, tubuh dan ruhani akan terbiasa bergerak secara teratur di waktu-waktu tertentu, selaras dengan biologis kebutuhan manusia setiap pagi, siang, sore, malam dan waktu shubuh. Kebiasaan shalat harus menjadi kebutuhan hidup, seperti halnya kebutuhan bilogis, dan pangan saja. Melainkan lebih kepada menjaga pola kesehatan dengan gerakan shalat yang istiqomah bagi orang-orang yang malas berolahraga. Maka, memperbanyak sholat dapat menjadikan kesehatan semakin dijaga dan dirawat, selain menghadap kepada sang Khaliq-Nya.

Dapat dibuktikan ketika akan melakukan aktifitas sehari-hari didahului dengan shalat dhuha minimal dua rakaat atau empat rakaat sebagai pintu memohon agar dibukakan rezeki dan dilapangkan rahmat-Nya oleh Allah SWT. Selain itu, akan jauh lebih tenang dalam berfikir, dan bertindak dalam memutuskan setiap keputusan yang menimbulkan resiko pekerjaan. Setidaknya setiap tindakan keputusan yang rencana diharapkan tidak melenceng begitu jauh. Dan masih ada solusi dalam menyelesaikan persoalan yang ada.  

 

 

 

III.  PEMBAHASAN

Pengertian sehat di dalam Undang-Undang nomor 23 tahun 1992 tentag kesehatan, disebutkan bahwa yang dimaksud kesehatan ialah meliputi kesehatan badan, ruhaniah (mental) dan sosial, dan bukan hanya keadaan bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan.[2] Kesehatan merupakan pola hidup teratur meningkatkan daya tahan tubuh, pemeliharaan, perawatan, memperbaiki dan mencegah timbuknya suatu penyakit. Upaya menjaga tahan tubuh pada umumnya berolahrga. Secara sederhana olahraga adalah menggerakan seluruh badan dengan pola-pola atau ritme yang sudah menjadi kebiasaaan setiap hari, misalnya saja pemanasan pada tubuh untuk meningkatkan metabolisme suhu tubuh.

Gerakan shalat dalam pandangan ilmu olahraga, dapat dikualifikasikan sebagai olahraga atletik senam. Sebab, gerakan shalat yang berulang-ulang minimal setiap lima menit sampai sepuluh menit, terbentuk secara sistematis dengan tumpuan serta keseimbangan. Berdiri tegak (qiyam) seseorang shalat diperlukan keseimbangan dan konsentrasi mendengarkan dan/ atau membacakan maupun mendengarkan bacaan surat shalat wajib dan surat sunnah. Gerakan pertama ini melatih postur tubuh dan keseimbangan tulang belakang. Ketika seseorang berdiri dengan benar kaki sejajar, punggung lurus, dan pandangan tertuju ke tempat sujud, maka otot-otot besar seperti paha, betis, dan punggung bagian bawah bekerja dengan stabil. Ini membantu memperbaiki postur dan mengurangi risiko nyeri punggung bawah (low back pain).

Di dalam tubuh manusia diciptakan itu ada dua komponen, pertama terdiri dari fisik/badan dan kedua merupakan ruh milik sang Khaliqnya. Maka, hubungan shalat dalam kesehatan menumbuhkan terhadap jiwa-jiwa ruh yang mati dan gerakan shalat menguatkan jasmani. Semakin baiknya shalat seorang hamba, maka akan baik pula kesehatan ruhaninya. Kedua komponen dalam rangka memohon pertolongan dengan cara menyembah kepada sang khaliq-Nya.  Shalat  dilihat memakai lensa kacamata ruhani tidak terbatas dan tidak dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu. Shalat secara ruhaniah tidak terikat oleh ruang dan waktu. Cara menjaga ruhaniah yang terletak didalam hati, maka gerakan shalat sebagai gerakan strecting (pemanasan) agar kesehatan tubuh terjaga. Tidak sekedar kebutuhan asupan ruh saja, melainkan ada keseimbangan kebutuhan jasmani dalam gerakan shalat.

Waktu shalat paling penting untuk kesehatan dilakukan pada waktu shalat subuh, dimana disaat tubuh selama tujuh jam beristirahat agar dapat digerakan kembali semua organ tubuh. Maka, ketika salah satu tubuh kita untuk menggerakan shalat ada yang sakit, maka sudah tentu hati kita tidak akan ikhlas. Maka, pentingnya gerakan shalat itu adalah keseimbangan kebutuhan ruhaniah/ jiwa dan juga menjaga kebutuhan kesehatan fisik. Karena sehat tidak sekedar memenuhi termasuk dalam syarat dan sah rukun shalat, maka agar shalat kita sah sepanjang hayat, dan sepanjang hidup untuk shalat diperlukan kondisi sehat.

Keadaan berdiri tegak sama halnya statik. Statik dapat diartikan diam atau ekuilibrium. Jadi seorang yang berdiri dengan tegak disertai ketenangan berada pada ekuilibrium. Keadaan diam dan berdiri tegak tersebut berkaitan pula dengan stabilitas atau keseimbangan.[3]

1.    Berdiri Tegak (Qiyam.

Secara psikologis, berdiri dalam shalat juga melatih konsentrasi. Saat seseorang mengucapkan takbiratul ihram dengan mengangkat tangan, ia seolah “menyisihkan” beban dunia dan memusatkan pikirannya kepada Allah.

Gerakan sederhana ini membangun koneksi antara tubuh dan pikiran, menyiapkan seluruh diri untuk memasuki suasana khusyuk.

2.    Rukuk.

Gerakan rukuk ini dilakukan dengan menundukan badan hingga punggung sejajar dengan lantai. Sedangkan tangan diletakkan di lutut. Gerakan ini memberikan manfaat luar biasa bagi tulang belakang dan sistem sirkuasi aliran darah. Ditinjau dari sisi media, posisi rukuk membantu :

·         Melenturkan tulang belakang dan mengurangi kekakuan otot punggung.

·         Melancarkan aliran darah ke otak bagian atas, sehingga meningkatkan fokus dan daya ingat.

·         Merelaksasi otot bahu dan leher yang tegang akibat aktivitas harian.

Rasulullah SAW mengajarkan agar rukuk dilakukan dengan tenang, tidak tergesa-gesa. Beliau bersabda:

“Tidak sah shalat seseorang yang tidak meluruskan punggungnya dalam rukuk dan sujud.”
(HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Gerakan rukuk yang dilakukan dengan sempurna tidak hanya menjaga adab ibadah, tetapi juga menyehatkan tubuh secara alami.

 

3.    Iti’dal meningkatkan sirkulasi dan kestabilan darah.

Setelah rukuk, seorang muslim berdiri kembali dalam posisi tegak — inilah i’tidal. Gerakan ini membuat darah yang mengalir ke kepala selama rukuk kembali ke posisi normal, sehingga menjaga keseimbangan tekanan darah.

Posisi ini juga memperkuat otot perut, punggung, dan kaki. Saat mengucapkan Sami’allaahu liman hamidah, rabbanaa lakal hamdu”, dada mengembang dan paru-paru menghirup udara secara optimal. Ini membantu memperbaiki pernapasan dan meningkatkan oksigenasi ke seluruh tubuh.

Dari sisi spiritual, i’tidal adalah momen syukur. Setelah tunduk dalam rukuk, seorang hamba kembali berdiri tegak sebagai simbol bahwa segala kekuatan datang dari Allah.

4.    Sujud meningkatkan aliran darah ke otak dan merileksikan fikiran.

Para ahli kesehatan juga mencatat bahwa sujud bermanfaat untuk:

·         Melancarkan aliran darah ke otak, meningkatkan suplai oksigen.

·         Mengurangi tekanan pada saraf tulang belakang.

·         Meredakan stres dan kecemasan, karena posisi ini menenangkan sistem saraf pusat.

·         Mengencangkan otot wajah dan meningkatkan elastisitas kulit.

Rasulullah bersabda:

“Seorang hamba paling dekat dengan Tuhannya adalah ketika ia bersujud. Maka perbanyaklah doa pada saat itu.” (HR. Muslim)

Dari sisi spiritual, sujud melambangkan kerendahan hati dan penyerahan total kepada Allah. Dari sisi kesehatan, sujud adalah bentuk meditasi islami yang menenangkan pikiran dan memperbaiki fungsi tubuh.

 

5.    Duduk diantara dua sujud.

Gerakan ini an duduk di antara dua sujud dilakukan dengan posisi tubuh tegak dan tenang. Pada posisi ini, tubuh berada dalam keadaan relaks namun seimbang.

Gerakan ini membantu:

·         Melatih kelenturan sendi lutut dan pergelangan kaki.

·         Menyeimbangkan sistem saraf otonom, yaitu saraf yang mengatur tekanan darah dan detak jantung.

·         Meningkatkan kesadaran pernapasan, karena napas diatur lebih dalam dan teratur.

Ucapan “Rabbighfirli, warhamni, wajburni, warfa’ni, warzuqni, wahdini, wa ‘afini, wa’fu anni” pada saat ini memperkuat sugesti positif dalam diri. Kalimat doa itu mengandung makna penyembuhan spiritual memohon ampun, rahmat, dan kesehatan dari Allah SWT.

 

6.    Tasyahhud menjaga keseimbangan tulang panggung dan sirkulasi darah pada kaki.

Posisi duduk tasyahhud (tahiyyat) menempatkan tubuh dalam posisi setengah bersila, dengan kaki kanan ditekuk dan jari-jari menghadap kiblat. Gerakan ini melatih kelenturan sendi pinggul dan lutut, serta menjaga aliran darah di tungkai bawah.

 

Secara medis, duduk tasyahhud membantu mencegah varises, memperkuat otot paha, serta menjaga keseimbangan postural. Selain itu, tangan yang diletakkan di paha dan jari telunjuk yang diangkat saat membaca syahadat memperkuat koordinasi antara otot halus dan sistem saraf motorik.

Di sisi spiritual, tasyahhud adalah pernyataan iman mengingat kembali dua kalimat syahadat dan memperbarui janji tauhid kepada Allah SWT.

 

7.    salam merupakan gerakan penutup yang menenangkan jiwa atau ruhaniyah.

Gerakan terakhir dalam shalat adalah menoleh ke kanan dan kiri sambil mengucapkan “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”. Gerakan ini melatih otot leher dan bahu, mengendurkan ketegangan yang mungkin terjadi selama shalat.

 

Selain manfaat fisik, salam juga memiliki makna sosial dan spiritual yang dalam. Ia mengajarkan doa perdamaian dan kasih saying- bahwa setelah berkomunikasi dengan Allah, seorang muslim kembali ke dunia dengan hati yang damai dan niat untuk menebarkan kedamaian.[4]

Dapat dikutip kalimah ‘shalawati’ (segala shalat) yang mengandung arti ‘plural’ atau jamak. Bukan ‘shalah’, melainkan ‘shalawati’ (shalat-shalat). Itulah bagian pertama tentang shalat dalam ayat tersebut. Shalat adalah manifestasi perjalanan spiritual hamba untuk menghadap kepada Khaliqnya, yakni Allah SWT. Shalat merupakan pertemuan antara hamba dan Tuhannya dalam dimensi ruang dan waktu tertentu untuk melepas rindu maupun tata cara berserah diri atas persoalan-persoalan di dunia yang melelahkan. Semakian dikejar dunia, maka semakin lelah. Sebaliknya, bila mengejar akhirat, maka dunia akan mengikuti. Satu kata bijak : semakin diminum bukan semakin dahaganya hilang, melainkan semakin diteguk bertambah haus. Itulah dunia semakin dikejar semakin melelahkan. Tinggal bagaimana kita dapat meletakkan antara kebutuhan jasmani dengan keseimbangan ruhanidan jiwa sehingga  ada keberimbangan kepentingan dunia dan kepentingan akhirat saling berjalan beriringan.

Shalat dibutuhkan ruang khusyuk untuk meluapkan kekesalan dan kelelahan hati pada dunia untuk bersandar agar doa-doa dikabulkan. Sebaliknya, bila kekhusyukan shalat tidak terpenuhi, maka shalat yang dilakukan tidak memberi sedikit manfaat kepada hambanya. Terutama mendatangkan faedah terhadap diri jasmani semakin lelah, karena hati adalah dzat untuk badan. Anggota badan lainnya yang bertindak dalam shalat itu bergantung kepadanya.

Nabi Muhammad SAW bersabda : ”Ingatlah bahwa dalam tubuh ada sekeping daging, apabila daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuh itu. Dan apabila ia rusah, maka rusak pulalah semua tubuh itu. Daging itu adalah hati”.

Jelaslah, [5]jika hati seseorang yang sedang sakit, yakni rusak, maka akan rusaklah seluruh anggota badan lainnya. Bagaimana dikatakan shalat seseorang itu baik, jika hatinya tidak baik, yakni rusak?.

Shalat dari segi kesehatan ruhaniah.

Pandangan shalat dalam kesehatan ruhani adalah meditasi shalat. Ingat, meditasi dalam olahraga Yoga di media alam bebas. Keheningan, kekhusukkan dan kecemasan, serta membangun konsentrasi agar fokus terhadap kesehatan tubuh. Konsentrasi atau kekuhusukan dalam proses meditasi olahraga yoga sangat dibutuhkan. Hal itu tak beda jauh dengan kekhusukan shalat akan menemukan titik nadir seseorang hamba berada di bawah kesalahan, dan kedholiman. Upaya pencapain itu agar dapat dirasakan secara maksimal dan terwujud pada organ tubuh kita, maka kekhusukan dalam shalat membuat hati dan jiwa yang mati lebih hidup, lebih tenang, fokus, dan tidak menimbulkan kegelisan. Out put dari kesehatan ruhani dalam shalat adalah menenangkan rasa kecemasan, ketakutan dan kegelisahan melalui dzikir dan doa-doa yang diucapkan sebagai bentuk menyelaraskan sebagai seorang hamba yang taat dan patuh terhadap perintah maupun larangannya. Secara keseluruhan, shalat menciptakan keseimbangan jiwa-raga, di mana kesehatan fisik mendukung ibadah dan sebaliknya.

                            

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Islam Kami konsep dalam Islam yang merujuk pada manusia sempurna atau paripurna, yang memiliki keseimbangan antara iman, ilmu, ibadah, dan akhlak mulia. Mereka meneladani Rasulullah Saw. dalam segala aspek, mampu mengaktualisasikan potensi fisik, rasional, dan spiritual, serta berperan sebagai khalifah yang memberikan manfaat bagi lingkungan.

[2] Ade Mardiana, Purwadi, dan Wira Indra Satya, Pendidikan Jasmani dan Olahraga, Jakarta, penerbit Universitas Terbuka, cet. Pertama, April 2008, hal. 8.4

[3] Ibid, hlm. 3.15

[4] https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat

[5] Syekh Abdul Qodir Al-Jalani, Terjermah Sirral al-Asrar : menemukan hakikat Allah SWT dalam segala rahasia kehidupan, Yogyakarta, PT. Diva Press, hlm. 221


di share oleh :

Muhammad Dasuki