Peternak Lotim Dibuatkan Kartu Ternak

 


Lombok Timur - NTB. TERASHUKUM - Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lombok Timur membuat inovasi kartu ternak, tanpa adanya anggaran penunjang dari Daerah.

Program kartu ternak yang diciptakan oleh Disnakeswan Lotim itu, dirancang untuk membantu peternak Lotim agar lebih mudah mengakses segala bentuk kebutuhan tentang edukasi peternak.

Namun minimnya anggaran yang didapatkan oleh Disnakeswan Lotim ternyata tak menjadi kendala. Oleh sebab itulah, Disnakeswan Lotim harus memutar otak agar kartu ternak tersebut tetap berjalan dengan menggandeng Desa dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lotim.

"Kita melihat Dinas kita saat ini anggarannya sangat terbatas, terlebih karena Covid-19. Sehingga kita harus memiliki koordinasi dan kolaborasi dengan Desa dan Dewan untuk mendukung potensi peternak," papar Drh. Hultatang, Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lombok Timur.

Melalui kolaborasi tersebut, ia mengungkapkan Disnakeswan Lotim mendapatkan anggaran 50 juta dari salah satu anggota Dewan untuk membangun Pos Pelayanan Terpadu.

"Kita mendapatkan anggaran 50 juta dari Pak Dewan, Partai PKS yaitu Pak Khalid (Abdul Halid - red). Untuk program pos pelayanan ternak terpadu," ucapnya.

Dan saat ini, kata Hultatang sedang proses pendataan jumlah peternak yang ada di dua Desa yaitu Desa Apitaik dan Desa Batuyang, Kecamatan Pringgabaya . Kedua Desa tersebut dijadikan pilot project untuk mengawali program kartu ternak tersebut.

Pada dasarnya kartu ternak itu, merupakan salah satu program dari Pos Pelayanan Ternak Terpadu.

Adapun kartu ternak besutan dari Disnakeswan Lotim itu terbagi menjadi tiga jenis, yaitu kartu ternak ruminansia yang digunakan bagi peternak jenis hewan sapi, kerbau, dan kambing.

Kemudian ada jenis kartu ternak unggas pedaging, yang digunakan untuk unggas seperti ayam dan bebek yang rata-rata bermitra dengan perusahaan.

Lalu yang terakhir ada kartu ternak mandiri, yang digunakan untuk petelur. Jenis inilah yang saat ini menjadi fokus Disnakeswan Lotim, karena belum adanya edukasi yang mengatur tentang manajemen peternak yang baik dibidang petelur.

"Karena banyak kasus peternak ayam petelur dengan modal besar, kemudian ada kasus satu ayam yang sakit, lalu semuanya habis. Sehingga merugikan peternak tersebut," tutur Hultatang.

Nantinya ketiga jenis kartu ternak itu, akan langsung terintegrasi dengan pusat. Karena terdapat nomor ID peternak yang akan digunakan sebagai bank data, baik bagi peternak maupun bagi hewan ternak.

"Peternak itu kemudian akan tercatat berapa banyak sapinya, umur sapinya, dan akan kelihatan nanti gangguan reproduksi ternak itu melalui nomor ID," ungkapnya. (iga)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama