Pandemi Belum Berakhir, Harga Cabai Rawit di Lotim Tembus 120 Ribu Perkilo

 


Lombok Timur, NTB. TERASHUKUM - Pandemi Covid-19 masih menyerang di Kabupaten Lombok Timur, berbagai upaya dan langkah strategis dilakukan pemerintah bersama dengan masyarakat untuk melawan Covid-19.

Namun kenyataan pahit harus diterima oleh masyarakat Lombok Timur saat ini, di saat pandemi Covid-19 masih berkeliaran. Justru harga salah satu komoditi yang wajib dibeli masyarakat, yaitu cabai rawit melambung tinggi hingga 120 ribu perkilo.

"Bukan hanya naik tapi saat ini melonjak, harganya kisaran 115 ribu sampai dengan 120 ribu perkilonya," ungkap salah satu pedagang cabai rawit di Pasar Rakyat Paok Motong, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur.

Harga cabai rawit yang meroket hingga tembus ratusan ribu itu, katanya sudah semenjak empat hari yang lalu. Dibandingkan dengan satu minggu yang lalu, Ia dan rekan pedagang lainnya mengaku bisa menjual cabai rawit dengan harga 70 ribu perkilo.

Lebih miris lagi, ternyata Ia menuturkan cabai rawit dengan kualitas busuk saja bisa tembus dengan harga 50 ribu perkilonya. Tentu hal itu tidak bisa dihindari kata pedagang tersebut, karena itu harga sudah ketentuan dari pengepul yang datang ke pasar.

"Karena faktor kelangkaan juga, kadang datang dan kadang tidak ada yang datang (cabai rawit - red)," tuturnya.

Dengan keadaan demikian, ia berharap supaya pemerintah bisa turun tangan mengatasi persoalan harga cabai yang meroket tersebut. Tentunya dengan harapan, harga cabai bisa kembali normal di pasaran.

Keluahan yang sama juga diungkapkan oleh Sumini (42), salah satu pembeli cabai rawit di Pasar Paok Motong. Ia sangat mengeluh dengan harga cabai saat ini, pasalnya di masa pandemi Covid-19 ternyata harga kebutuhan pokok seperti cabai rawit masih saja bisa melambung.

"Corona belum juga berakhir, ternyata masyarakat harus dihadapkan dengan harga cabai yang tembus 120 ribu perkilo saat ini," keluhnya.

Keluhan yang sama juga keluar dari pengepul cabai rawit, salah satunya Mustopa (25) yang menjelaskan, cabai rawit yang Ia jual ke pedagang-pedagang diseputaran Lotim harganya 90 ribu sampai dengan 100 ribu perkilonya. Tentu harga tersebut jauh dari harga yang sewajaranya.

"Kalau harga normal dari cabai rawit itu biasanya cuman 30 ribu atau 40 ribu perkilo. Tapi sekarang ini, yang dua biji cabai rawit itu saja harganya seribu," bebernya.

Dari Pemerintah Kabupaten Lombok Timur sendiri, mengakui jika harga komoditi yang harganya paling melonjak signifikan dibandingkan komoditi lainnya saat ini ialah cabai rawit.

"Tanggal 4 Maret 2021 kemarin, harga cabai 95 ribu sampai dengan 100 ribu perkilonya," kata Hj. Masnan, Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Lombok Timur ketika ditemui di ruang kerjanya.

Ia juga menerangkan, ketika menelusuri inti persoalan dari lonjakan harga cabai rawit itu. Ditemukan bahwa para petani yang menanam cabai rawit di Lotim ada yang gagal panen akibat dari cuaca yang terus-menerus hujan.

"Ini terjadi karena dampak perubahan iklim, sehingga banyak yang gagal panen dan menimbulkan stok cabai yang berkurang," jelasnya.

Sehingga petani Lotim yang menanam cabai rawit tersebut, disarankan olehnya supaya tidak menjual hasil taninya ke Kabupaten lain. Dan hal tersebut nyatanya telah dilakuakan oleh petani cabai rawit, dengan tidak menjual hasil taninya ke daerah lain selain di Lotim.

Dengan demikian, pihaknya akan berkolaborasi ke depannya dengan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Kabupaten lainnya di NTB untuk mengambil stok cabai rawit.

"Kami sudah komunikasikan, ternyata hasilnya sama," imbuh Kadis, sambil mengatakan solusi lainnya yaitu dengan menggelar operasi pasar beberapa hari ke depanya.

Adapun langkah lainnya, kata Masnan akan tetap melakukan upaya penstabilan dengan cara mengkomunikasikan dengan Organiasi Perangkat Daerah (OPD) lainnya seperti Dinas Ketahanan Pangan, Bagian Ekonomi dan Dinas Pertanian setempat.

"Kami terus melakukan langkah-langkah optimal untuk menstabilkan harga semua komoditi di tengah masyarakat," tandasnya (iga)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama