Eko Rahadi Dinilai Asal Tuding, Zuwarno: Bisa Membahayakan Generasi Aktivis

 



Lombok Timur, NTB. TERASHUKUM - Adanya isu miring yang menimpa para aktivis di Lombok Timur sempat menyita pandangan masyarakat. Terlebih lagi masyarakat netizen yang mulai melontarkan respon negatif terhadap keberadaan aktivis di Lotim.

Sebelumnya Eko Rahadi melontarkan tudingan ke aktivis Lotim, terkait dengan adanya dugaan aktivis yang rebutan jatah. Namun hal tersebut nilai merupakan tudingan yang asal-asalan oleh Zuwarno Saputra, SH selaku Ketua Lingkaran Keluarga Bintang Merah (LIGANTARA) Lombok Timur.

"Jangan asal tuding, nanti akan berdampak kepada generasi yang akan datang. Sehingga dampaknya tidak ada lagi mahasiswa yang mau menjadi aktivis," tegasnya. Minggu, 7/2/2021.

Eko yang merupakan salah satu alumni bintang merah juga secara tidak langsung masuk ke dalam LIGANTARA. Oleh sebab itulah, Zuwaro ingin meluruskan apa yang telah diucapkan oleh Eko tersebut di salah satu media.

Bahkan kata Zuwarno dulunya Eko merupakan orang yang pernah diakomodir olehnya. Karena sebelum menjadi seperti saat sekarang ini dulunya Eko sempat hidup terlunta-lunta di jalanan.

"Dulu ketika dia hidupnya di perempatan jalan, pernah kita akomodir supaya melanjutkan pendidikannya ke jenjang S1. Agar hidup dan pemikirannya lebih dewasa," ucap pria yang akrab disapa Om Noq itu.

Sehingga perlu ia luruskan apa yang telah dilontarkan oleh Eko tersebut. Padahal menurutnya tidak semua aktivis di Lotim seperti yang dituduhkan oleh Eko. Akan tetapi arahnya memang aktivis bertujuan untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat yang selama ini tertindas.

Oleh sebab itulah ia sangat menyayangkan tudingan Eko kepada para aktivis di Lotim karena itu nantinya akan berdampak buruk kepada kepercayaan masyarakat Lotim.

"Jangan sampai kita seperti maling teriak maling," lugasnya.

Terlebih lagi ia perpesan di masa pandemi Covid-19 ini agar semua harus dipandang dengan mata bijaksana. Karena disisi lain aktivis juga mempunyai kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi.

"Emang tak boleh aktivis berusaha. Mereka juga punya anak dan istri yang harus dicukupi segala kebutuhannya," jelasnya.

Ia juga tak menafikkan kalaupun ada peluang kenapa aktivis harus diam. Karena selama hal tersebut tidak merugikan masyarakat, maka sah-sah saja itu sebagai peluang bagi rekan aktivis lainnya.

"Jangan-jangan yang ngomong tidak dapat jatah," ketusnya.

Ke depan ia mengharapakan tidak ada lagi antar aktivis saling tuding menuding. Yang justru efeknya bisa merusak citra dari aktivis tersebut.

"Apapun yang kita lihat belum tentu sebenarnya. Mari buang jauh-jauh rasa saling mencurigai sesama aktivis," pesannya. (tim)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama