BUMD Lombok Timur: Sebuah Refleksi Sederhana Untuk Kemajuan Daerah


Oleh: Suriadi, S.Sy., ME

Opini. TERASHUKUM - Pertama-tama, izinkan saya yang fakir ini mengurai perspektif saya mengenai keberadan BUMD Lombok Timur. Tulisan ini berangkat dari niat ingin belajar dan terus belajar mengenai bagaimana berkontribusi untuk orang banyak. Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud mengajari para guru, ekonom, maupun praktisi yang ada, murni tulisan ini sebagai refleksi pribadi melihat pengelolaan BUMD kita di Lombok Timur.


Keberadaan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) seyogyanya mampu menjadi benang merah di tengah lunglainya Pendapatan Asli Daerah (PAD) Lombok Timur, yang makin hari makin memprihatinkan. Namun, harapan tersebut akan menjadi pepesan kosong manakala tidak ada niat baik dari pemangku kepentingan untuk membenahi lumbung PAD itu. 


Dalam diskusi “Sudut Pandang” yang digelar oleh LK2T beberapa waktu lalu, terlihat bahwa kelemahan Lombok Timur sudah diketahui sejak lama, seperti halnya kelemahan pada Sumber Daya Manusia (SDM), Pangsa Pasar yang masih terbatas dan unit usaha yang masih belum berkembang.


Laksana sebuah penyakit, seharusnya ketika kita tahu penyakit kita, maka sangat wajar kita harus mencari obat untuk menyembuhkan penyakit itu. Demikian dengan BUMD di Lombok Timur, yang sudah mengetahui kelemahannya namun enggan dan berat hati untuk melakukan evaluasi, dan pembenahan secara totalitas.


Jika harapan pemegang saham BUMD menjadi penopang PAD Lombok Timur, maka Pemegang Saham harus tegas, pengelolaan BUMD harus profesional, namun lagi-lagi harapan itu akan menjadi bualan semata jika pemegang saham tidak memberikan jabatan itu pada ahlinya.


Bukankah sudah jelas dalam hadits menjelaskan, yang artinya: “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran" (HR.Bukhari)” kalimat sederhana namun syarat makna ini tentu tidak lahir dari ruang kosong, melainkan pengalaman hidup para pendahulu kita.


Alih-alih mampu dikelola secara professional, tidak jarang kita temukan BUMD justeru diisi oleh orang-orang tertentu, yang secara “politis” dekat dengan para pemangku kebijakan tadi, sehingga kesan yang muncul ialah BUMD sebagai ruang transit bagi mereka yang berjasa mensukseskan pimpinan daerah saat ini.


Terlepas dari kacamata politik, saya melihat BUMD di Lombok Timur bisa menjadi salah satu instrument dalam meningkatkan PAD, tentu dengan menata kembali SDM yang ada di dalamnya baru kemudian menyesuaikan pangsa pasar terhadap produk yang dijalankan. 


Untuk diketahui Pangsa pasar saat ini sangat terbuka dengan berbagai macam dan model persaingannya. Hanya saja, dalam amatan saya pribadi, jajaran Komisaris/Dewas (Dewan Pengawas) dan Direksi berkenan apa tidak melakukan terobosan-terobosan baru guna meningkatkan PAD dari sektor itu.


Misalnya memasarkan produk BUMD Lombok Timur lewat aplikasi, atau memberikan layanan cepat berbasis aplikasi, adakah BUMD kita menggunakan trend itu?, jika tidak ada, sungguh kita ketinggalan zaman, punya gadget canggih tapi otak masih jadul.


Untuk pengembangan BUMD di Lombok Timur, saya kira prinsip “al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah, (Memelihara metode lama yang baik dan mengambil metode mutakhir yang lebih baik)” menjadi sangat penting diterapkan, mengingat kehidupan manusia saat ini sudah beralih ke zaman teknologi


Hal lain yang tak kalah penting ialah, bagaimana BUMD Lombok Timur ini mampu menyumbang keuntungan bagi daerah. Tentu ketika berbicara untung-rugi, maka itu akan menjadi hal yang lumrah dalam bisnis. Akan tetapi, sangat lucu kelihatannya ketika BUMD yang sudah memiliki perangkatnya dari daerah sampai desa mengalami kerugian melulu, bahkan miris jika penyertaan modal tinggi tapi hasil minus. 


Untuk meguarai itu kita tidak harus mempertanyakan siapa yang salah, melainkan kita bersama-sama mencari apa yang salah dan harus dibenahi di BUMD kita ini? Menurut saya, hal sederhana yang harus dimulai ialah, membuka unit-unit usaha baru dan menekan biaya-biaya, seperti gaji karyawan. Dalam arti bahwa, karyawan yang direkrut harus disesuaikan dengan kapasitas produksi dan keuntungan perusahaan, biaya operasional, biaya study banding atau biaya yang tidak urgen dan mendesak bagi perusahaan.


Sehingga dengan SDM yang mumpuni itu, unit usaha menjadi lebih banyak dan bervariasi, kuantitas karyawan yang selaras dengan kebutuhan dan keuangan perusahaan. Jika kita berani mengambil langkah seperti itu, saya meyakini BUMD Lombok Timur akan sehat dan bisa menjadi penyumbang PAD terbesar untuk Gumi Patuh Karya.


“Setiap kali saat fajar menyingsing, seekor Rusa terjaga, ia tahu hari ini ia harus lari lebih cepat dari seekor Singa tercepat, jika tidak, ia akan terbunuh, dan setiap kali saat fajar menyingsing seekor Singa terbangun, ia tahu hari ini ia harus mampu mengejar Rusa yang paling lambat, jika tidak, ia akan mati kelaparan, tidak peduli anda Singa atau Rusa, jika fajar sudah menyingsing, sebaiknya anda mulai berlari” 

(Puisi Tradisional Rimba Afrika)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama