Diultimatum Sekwil GP Ansor NTB, H. Najamudin Klarifikasi Pernyataannya

H. Najamuddin (kiri) dan Dr. Irfan Suryadinata (kanan)


Lombok Timur, NTB. TERASHUKUM - Mencuatnya statement H. Najamudin terkait polemik perubahan nama Bandara Internasional Lombok (BIL) menjadi Bandara Internasional  Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) yang mengatasnamakan diri sebagai  Dewan Mustasyar PWNU NTB  di salah satu media belum lama ini mendapat tanggapan dari sejumlah tokoh muda NU, salah satunya adalah Dr. Irfan Suryadinata.


Sekertaris Wilayah Gerakan Pemuda Ansor NTB itu menyampaikan bahwa  H. Najamudin tidak punya hak mengatasnamakan pernyataannya itu  Dewan Mustasyar PWNU NTB karena namanya tidak ada dalam SK kepengurusan. 


"Kalau tanggapan dia mendukung atau menolak silahkan saja, itu hak setiap orang mau mendukung atau tidak, kami tidak boleh larang,  tapi jangan menyebut dirinya sebagai Mustasyar PWNU NTB, karena dia bukan pengurus Muhtasyar," tulisnya saat dimintai tanggapan via WhatsApp, pada Jum'at, 25/12/2020.


Pasalnya, lanjut Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor NTB itu, di dalam SK PWNU NTB,  tidak ada namanya H. Najamudin.


"Tidak ada namanya di SK, itukan sama dengan melakukan kebohongan  publik," sambungnya sembari melampirkan SK tersebut.


Dr. Irfan kembali menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak mempersoalkan pandangan pribadi H. Najamudin terkait polemik nama Bandara. Dirinya hanya ingin supaya H. Najamudin tidak mencomot nama organisasi yang tidak ada haknya di sana.


"Yang jelas kami minta pak Najam jangan bawa-bawa nama NU dalam soal ini. Kalau pribadi, dia mau dukung atau tidak silahkan saja," katanya.


Tokoh muda NU itu memberi ultimatum kepada H. Najamudin agar segera mengklarifikasi pernyataannya yang sudah tersebar luas itu. Jika tidak, dirinya terpaksa akan membawanya ke ranah hukum.


"Kalau dia tetap mengatasnamakan Mustasyar NU, padahal dia bukan pengurus Mustasyar, nanti pasti kami akan bawa ke ranah hukum," tegasnya.


Sekali lagi, lanjutnya, dirinya sangat menghargai pilihan sikap setiap orang, akan tetapi, katanya, jangan mengklaim sesuatu yang  bukan haknya. "Kita sangat hargai perbedaan pendapat soal ini, itu soal biasa," jelasnya.


Dr. Irfan meminta supaya H. Najam segera membuat pernyataan klarifikasi dan mencabut pernyataannya itu.  


"Silahkan pakai pribadinya dia saja, dan bisa pakai atas nama partainya, dia kan anggota DPRD NTB dari PAN, kenapa tidak pakai itu saja," ujarnya.


Dia mengatakan, jika ingin melontarkan statement, terutama di Media, jangan sampai bawa-bawa nama organisasi yang bukan tempatnya jadi pengurus.


"Jangan bawa-bawa nama organisasi yang bukan tempatnya jadi pengurus, " pungkasnya.


Menanggapi hal itu, awalnya H. Najamudin mengaku  tidak tahu bahwa dirinya tidak ada dalam SK Kpengurusan NU NTB, dia tahu hal itu dari pemberitahuan lisan sejumlah teman.


Akan tetapi, katanya, setelah dikonfirmasi kembali ke orang yang memberitahunya itu, dikatakan bahwa di dalam SK yang tebaru namanya memang tidak ada.


"Terkait dengan tidak masuknya nama saya di pengurusan kan saya tidak diberitahu, malah saya dapat pemberitahuan dari teman-teman itu katanya masuk jadi Mustasyar, tapi setelah saya konfirmasi lagi katanya di SK terbaru itu memang tidak ada nama saya," katanya.


H. Najamudin menceritakan bahwa dirinya melontarkan statemen yang mengatasnamakan Mustasyar NU NTB  itu saat dirinya diminta untuk memberikan tausiyah dalam sebuah acara di Sikur. 


Di tengah-tengah acara itulah, katanya, Ia ditanya mengenai pandangan NU terkait nama Bandara yang saat ini masih jadi polemik dan bola liar di masyarakat.


“Saya kan disuruh Tausiyah di sana, terus ditanya sikap NU, lalu saya jawab NU tidak membenci tetapi mendukung,” katanya sembari menegaskan bahwa niatnya mengatakan hal itu ialah untuk meredam umat supaya tidak menimbulkan perpecahan, karena akhir-akhir ini NU dituding terkait polemik bandara itu.


“Di sana saya katakan tidak ada yang seperti itu, saya orang NU kok saya Mustasyar NU dan secara keorganisasian tidak ada yang mempersoalkan BIZAM setahu saya, saya bilang waktu itu,” ujarnya mengulangi pernyataannya.


Akan tetapi, kata H, Najamudin, saat ia mengatakan dirinya Mustasyar NU, yang dimaksudkan ialah  saat ia menjabat pada periode sebelumnya, bukan periode sekarang.


Dirinya juga sangat menyayangkan kenapa statemennya bisa naik ke media, padahal dia merasa tidak ada wartawan yang mewawancarinya pada saat itu. 


Pasalnya, kata H. Najamudin, dirinya menyampaikan hal itu saat memberikan tausiyah, bukan saat diwawancara oleh wartawan, sehingga dia merasa wajar menjawab dengan jawaban seperti itu, untuk memberikan ketenteraman bagi masyarakat.


“Seharusnya media yang mengutip statemen saya itu konfirmasi dulu terkait apa yang saya sampaikan saat pidato dan menjawab pertanyaan jamaah mengenai sikap NU tersebut,” pungkasnya. (Red-TH)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama